Home » Travel Destination » Rumah-rumah Batu di Cappadocia, Turki

Rumah-rumah Batu di Cappadocia, Turki

Rumah-rumah Batu di Cappadocia, Turki

Cappadocia merupakan sebuah arena yang terletak di metropolis Göreme, Provinsi Nevsehir, Turki. Di arena ini terdapat sebuah halaman ladang di negeri yang terdaftar di letak warisan dunia UNESCO. Taman ini berisi tempat-tempat bersejarah yang dilestarikan. Tempat tinggal, biara, dan gereja-gereja arena menjadi kesaksian gagu bermula kejayaan kala kekaisaran Bizantium di abad ke-4 .

Erosi mengikis dataran jangkung jurang Göreme dan membentuk karakteristik istimewa bagai pilar, kolom, menara, tugu, maupun pasak yang mencapai ketinggian 40 meter. Untuk memasuki halaman ladang di negeri yang merupakan sebuah museum terbuka (open cairan museum), Anda cuma harus membayar 15 lira Turki maupun sekitar Rp. 75.000.

Cappadocia dikenal dengan julukan “Land of Fairy Chimney”. Sebutan ini kelihatan akibat karakter istimewa arena ini berupa bebatuan berbentuk bagai corong kabut maupun piramida yang pipih. Bebatuan ini tak cuma dapat dilihat di di halaman ladang nasional, bakal melainkan juga di asing halaman ladang di negeri pun amat berlimpah jelas terlihat.

Bebatuan ini menjadi rumah-rumah belah penduduk lokal. Bayangkan rumah-rumah bongkah dengan atap yang berbentuk bagai corong asap. Uniknya, senggat saat ini lagi berlimpah penduduk lokal yang berdiam di gua-gua bongkah tersebut.

Ada juga yang membuka restoran maupun restoran di terowongan bongkah sebagai alat penglihat pencaharian, akibat benar metropolis ini mempunyai peluang berlimpah sebagai arena pariwisata. Guest house yang tersedia di arena ini pun nyaris segala menempati gua-gua peninggalan 3 juta tahun yang lalu. Hebat yah!

Walau lagi berdiam di gua, melainkan konstan tersedia heater maupun pemanas ruangan. Karena di waktu dingin, salju juga terkadang mendarat baik tak sebanyak di kota-kota beda di utara dunia. Saya datang di metropolis ini di bulan Juli lalu, jitu di waktu panas. Kalau lain bakal melihat lanskap metropolis yang amat berlimpah unik, rasanya tak bakal deh merasakan panasnya metropolis yang dapat mencapai 40 posisi celcius. Saya luang resah momen membayangkan bakal mencoba rute bumi menyusuri Turki. Ternyata ke atas bus damping metropolis di Turki bagai ke atas kapal melangit terbang. Ada televisi sempurna dengan earphone di setiap kursi, mencapai ”pramugari maupun pramugara” yang tersedia melayani Anda bakal menikmati secangkir kopi, teh, maupun sekedar seteguk cairan adem dan es krim.

Beberapa penjelasan di internet menyebutkan bahwa amat berlimpah dianjurkan bakal iring bingkisan darwawisata darmawisata maupun menyewa mobil. Tetapi ternyata besikal mesin bertambah menarik. Saya tak terikat di agenda tur, dan bertambah dapat menikmati lingkungan dengan bertambah santai. Lalu bertemu dengan orang-orang setempat yang baik tak dapat berbicara inggris melainkan amat berlimpah bersahabat.

Pada senja hari, berlimpah penduduk lokal yang duduk-duduk dan bersantai di gerai kopi. Saya perhatikan, bagai pemberian mega negara-negara di arena timur pusat maupun yang mempunyai kerangka kamar kecil kebudayaan Arab, terlihat kaum maskulin yang ”mejeng” di gerai kahwa seraya menikmati shisha maupun waterpipe.

Jika Anda belum sudah merokok, barangkali dapat mencoba shisha dengan macam-macam rasa bagai rasa buah-buahan.

Masih di daerah yang sama, dengan sepeda motor sewaan seharga minim bertambah Rp. 250.000 bakal 24 jam, aku mendarat ke metropolis Ortahisar. Wah, bagai fatamorgana, di pusat teriknya Cappadocia, aku menemukan sebuah danau.

Sebagian mega pengunjung telaga merupakan anak adam lokal. Ada satu-dua mobil camper bermula Belanda dan Perancis. Lebih jauh perjalanan mereka ketimbang aku yang melangit bermula Kopenhagen ke Istanbul sebelum melanjutkan perjalanan dengan bis ke Göreme. Di balik telaga terlihat gunung-gunung bongkah di halaman ladang di negeri Göreme, ajang rumah-rumah beratap bagai corong asap.

Kendala ”lost in translation” dapat beres menyebalkan maupun bahkan membuat hawa menarik. Untungnya pengalaman kali ini amat berlimpah menarik. Saya bertemu dengan sebuah famili yang lagi berpiknik. Dengan cuma mengandalkan aksen isyarat melalui gerakan tangan, mereka berbagi makanan istimewa Turki dan memaksa aku memakan mendikai terbesar yang sudah aku lihat.

Leave a Reply

Copyright © 2011 Warta Travel.
Powered by WordPress.